Tampilkan postingan dengan label citra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label citra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2009

Pelatihan Fotografi Bagi Siswa

MA Citra Cendekia mengadakan pelatihan tehnik fotografi bagi siswa pada tanggal 7 Februari 2009. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan siswa dengan dunia fotografi. Siswa diperkenalkan dengan sejarah fotografi, jenis-jenis kamera dan beberapa teknik foto.

Narasumber pada pelatihan ini adalah Mas Reza Permana, seorang fotografer pada majalah otomotif gramedia majalah. Siswa ditunjukkan bagaimana satu momen tertentu bisa diabadikan dalam sebuah gambar/foto yang indah dan menarik. Bukan sekedar momen itu yang pada dasarnya sangat indah, tapi ada trik dan teknik mengambil gambar yang digunakan sehingga bisa menghasilkan sebuah gambar atau foto yang indah. Artinya semua momen bisa menjadi menarik jika kita mengetahui bagaimana teknik atau trik memotret dan mengambil gambar dari sudut/angle yang bagus.

Pelatihan ini memberikan latihan bagi siswa untuk mengoptimalkan kamera handphone. Melalui kamera handphone, siswa juga dapat mengabadikan satu momen tertentu menjadi gambar atau foto yang menarik.

PELATIHAN PENULISAN SISWA MACC

Tanggal 24 Januari dan 14 Februari 2009, MA Citra Cendekia melaksanakan pelatihan menulis bagi siswa. Kegiatan ini diisi oleh narasumber, Acip Setiawan, penulis yang sehari-harinya bekerja sebagai wartawan tabloid otomotif, gramedia majalah.

Pelatihan ini dimaksudkan agar siswa memiliki wawasan tentang dunia tulis menulis yang sangat menarik dan menjanjikan secara materi jika ditekuni dan dijalani dengan sepenuh hati. Kesulitan siswa adalah meruntuhkan mental block mereka bahwa menulis itu sulit. Mas Acip dengan gaya mangajarnya yang asik, membuka kesadaran siswa bahwa menulis adalah sesuatu yang mudah. Kekhawatiran siswa tidak adanya bahan yang bisa ditulis, bagaimana memulai kalimat pertama untuk menulis, dibongkar oleh Mas Acip dengan menyajikan contoh-contoh tulisan menarik yang ternyata diambil dari tema keseharian yang sering dialami oleh semua orang. Bedanya ada orang yang mengungkapkan apa yang mereka alami dan mereka lihat ke dalam sebuah tulisan, dan ada yang belum pernah melakukannya. Ibaratnya seperti menulis diary.

Mudah-mudahan pelatihan ini dapat membantu siswa dalam menemuka kepercayaan diri bahwa setiap orang bisa menulis. Hanya tinggal mau mencoba..mencoba..dan mencoba. Hasil tulisan siswa bisa dilihat pada blog masing-masing siswa.

Kamis, 04 Desember 2008

PELATIHAN KTSP

Pada tanggal 28-30 November 2008, dari pk. 07.30-18.00 WIB, MA Citra Cendekia (MACC) telah melaksanakan pelatihan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), meliputi standar isi, standar proses, standar SKL, dan standar penilaian. Walaupun lelah mengikuti materi yang dipadatkan dalam 3 hari, namun banyak perubahan cara berpikir yang dialami oleh rekan-rekan guru dalam memahami proses pembelajaran. Melalui pelatihan ini banyak 'kekhilafan' yang kami sadari dan mungkin juga kekhilafan yang sama yang dialami oleh pelaku pendidikan kita (guru) dalam mengimplementasikan kurikulum.
Kekhilafan yang kami sadari adalah ternyata proses pembelajaran yang kami lakukan baru sebatas sebagai proses mengajar, bukan belajar. Padahal ruhnya kurikulum KTSP adalah menciptakan proses pembelajaran yang mendorong siswa mampu berpikir kritis dan argumentatif dalam menemukan kebenaran ilmu, mengalami sendiri konsep ilmu yang mereka cari, sehingga pengalaman ini menjadi sebaik-baiknya guru bagi mereka. Guru di kelas adalah fasilitator, yang seharusnya mampu mendesain proses belajar dengan memberikan hal yang bisa mereka alami sendiri dan temukan hingga membuat satu kesimpulan secara mandiri. Insya Allah proses pembelajaran seperti ini akan membuat ilmu lebih mudah mengendap dalam diri siswa. Pengetahuan lebih mudah hilang dalam ingatan, tapi pengalaman adalah hal yang sulit dilupakan.
Persoalannya adalah proses pembelajaran disekolah lebih sering diarahkan hanya untuk melewati Ujian Nasional (UN). Akhirnya UN menjadi satu momok bagi pelaku pendidikan di Indonesia. Akibatnya setiap pelaku pendidikan mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk mendapatkan 'label' lulus UN bagi siswa didiknya, namun sering kali mengabaikan apakah proses untuk mencapainya tepat atau tidak. Malah jangan-jangan asal tercapai, segala cara bisa dihalalkan. Inilah yang kemudian memunculkan kasus yang sangat memalukan dunia pendidikan ketika sekelompok guru di bawah arahan kepala sekolah memberikan bocoran jawaban soal UN kepada siswanya.
Kalau kita mengingat kembali kepada niat awal kita menjadi guru, rasanya UN bukan satu-satunya alasan untuk mendidik. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendidik siswa menjadi generasi yang beriman dan tangguh dalam menghadapi hidup. Untuk itu guru juga harus menajdi sosok yang beriman dan tangguh dalam menjalankan perannya. (MACC)